Showing posts with label matematika. Show all posts
Showing posts with label matematika. Show all posts

Wednesday, May 28, 2014

Mengenal dan Menjumlahkan Pecahan Sederhana

0 komentar
Abstraksi Metode ini mengajak anak-anak memahami konsep pecahan degan mengenal beberapa bentuk pecaha sederhana. Selain mudah dan menarik, metode ini dapat menstimuli anak untuk membandingkan besar dan ukuran bentuk, sekaligus melatih anak mencari alternatif dalam pemecahan masalah.

Latar Belakang

OLYMPUS DIGITAL CAMERABagi sebagian murid saya, siswa kelas 4 SDN 10 Rambang, Muara Enim, matematika bagaikan monster mengerikan yang siap menelan mereka hidup-hidup :mrgreen: . Berbagai persoalan yang hanya berupa susunan angka bisa jadi tidak menjelaskan apapun bagi sebagian besar mereka. Deretan angka tersebut masih terlalu abstrak untuk dipahami.
Operasi pecahan masih sering membuat bingung murid-murid saya, apalagi  jika penyebutnya berbeda. Penyebut tersebut harus disamakan dulu. Pecahan akan lebih mudah dipahami bila bentuk nyatanya bisa dilihat/diamati, tidak hanya susunan angka yang berderet. Dengan metode ini, murid-murid saya bisa lebih menyukai soal pecahan dan bahkan bersahabat dalam mengerjakan soal pecahan :-) .

Kondisi Kelas

Saya pernah menerapkan metode ini untuk semua materi mengenai pecahan dan bisa diterapkan mulai kelas 3 SD saat siswa baru pertama kali dikenalkan dengan pecahan sederhana. Pada kelas yang lebih tinggi, misalnya kelas 4 dan 5, cara ini saya gunakan untuk pengenalan sebelum materi penjumlahan pecahan dengan penyebut berbeda.

Langkah-langkah

Berikut ini adalah langkah-langkah yang kami lakukan dalam melaksanakan metode ini:
  1. Saya berikan setiap murid selembar kertas, kertas berwarna polos akan lebih baik. Kertas yang digunakan bebas (bisa juga kertas dari kardus atau buku tulis), namun saya menggunakan kertas lipat (kertas marmer). Tujuannya adalah supaya lebih menarik karena berwarna-warni. Selain itu, warna yang berbeda akan lebih mudah digunakan untuk membandingkan antara satu bilangan pecahan dengan bilangan pecahan yang lain.
  2. Murid diminta membagi kertas tersebut menjadi dua bagian sama besar (1/2).
  3. Murid diminta untuk mengambil salah satu bagian tersebut dan dibagi dua sama besar lagi (1/4).
  4. Sekali lagi, murid diminta untuk mengambil salah satu potongan ¼ dan  dibagi dua sama besar (1/8).
  5. Dan lagi, murid diminta untuk mengambil salah satu potongan 1/8 dan dibagi dua sama besar (1/16).
  6. Guru bisa meneruskan hingga potongan yang lebih kecil lagi, namun sepertinya potongan 1/16 sudah cukup efektif untuk melakukan permainan ini. Jadi, setiap murid memiliki: 1 potongan 1/2, 1 potongan 1/4, 1 potongan 1/8, dan 2 potongan 1/16.
    Ruang Belajar Mengenal dan Menjumlahkan Pecahan Sederhana - Trisa Melati (2)            OLYMPUS DIGITAL CAMERA
  7. Minta murid bekerja secara berkelompok dengan menggabungkan potongan-potongan yang mereka miliki dengan potongan milik teman lainnya. Jika rombongan belajarnya kecil (5-10 anak), kegiatan ini bisa dilakukan langsung bersama-sama, namun jika rombongan belajarnya lebih besar, maka murid bisa dibagi berkelompok 4-5 anak per kelompok. Agar lebih mudah, saya arahkan murid-murid untuk berkelompok dengan teman sebangku dan teman di bangku depan/belakang mereka.
    Ruang Belajar Mengenal dan Menjumlahkan Pecahan Sederhana - Trisa Melati (1)
  8. Dari sini, kita bisa membimbing murid untuk menemukan dan menyimpulkan bahwa 1/2  (satu per dua) adalah satu kertas yang dibagi 2 sama besar, 1/4 adalah potongan kerta 1/2 yang dibagi dua sama besar, dan seterusnya. Kita bisa mengajak siswa untuk menyusun dan membandingkan kertas-kertas tersebut. Saya hanya memberikan 2-3 contoh saja. Sisanya saya biarkan siswa yang mencoba-cobanya sendiri.
  9. Untuk tahap selanjutnya saya memberi contoh operasi penjumlahan pecahan, misalnya 2/16 adalah 2 potongan 1/16 yang disusun bersama, 3/16 adalah 3 potongan 1/16 yang disusun bersama, dan seterusnya. Saya minta mereka untuk  mencari potongan mana yang besarnya sama dengan 2/16.
    OLYMPUS DIGITAL CAMERA          OLYMPUS DIGITAL CAMERA
  10. Nah, sekarang mari kita tes pemahaman siswa dengan memberikan soal sederhana. Biasanya murid-murid saya lebih bersemangat ketika mereka tahu ada kompetisi, maka saya buat “kuis cepat-tepat” antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Mulai dari soal yang sederhana, dan secara bertahap ke soal yang lebih kompleks.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Soal kompetisi ditulis di papan. Untuk menyelesaikannya, murid bisa menggunakan gambar
Guru menuliskan soal di papan tulis untuk diselesaikan oleh murid. penyelesaiannya bisa menggunakan gambar

Pembelajaran Tambahan Ada banyak hal yang bisa diraih dari pembelajaran dengan metode ini. Menariknya, guru tidak perlu terlalu banyak mengarahkan murid-murid agar bisa menemukan hal tersebut. Pada pengalaman saya, murid akan dengan sendirinya mengeksplorasi nilai pecahan melalui bentuk dan besar kertas, sehingga pada akhirnya mereka menemukan bahwa 2/8 (2 potongan 1/8) sama besarnya dengan 1/4. Dan jika mereka kehabisan potongan 1/2, mereka bisa menggunakan 2 potongan 1/4 atau 4 potongan 1/8 sebagai gantinya. Yang perlu saya lakukan saat itu adalah mendorong mereka untuk mencari alternatif.
Misalnya saja, ada soal 1/4 + 1/4 =…….
Dibandingkan murid yang menyusun 2 potongan 1/4 , guru bisa memberikan nilai tambahan untuk murid yang langsung menjawab dengan 1 potongan 1/2 .
Jangan lupa, selalu berikan apresiasi bagi murid yang berhasil “menemukan” hal baru sehingga mereka makin terpacu untuk mencari alternatif baru dalam mengerjakan matematika.

Sumber : Indonesia Belajar
Read more

Uji Pemahaman lewat “Kuis Rangking 1”

0 komentar

Abstraksi

Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Penulis terpikir langkah untuk memberikan ulangan harian atau kuis dengan cara yang berbeda tapi tetap memberikan semangat kompetisi yang sehat buat anak-anak. Ketika melihat permainan “Rangking 1” salah satu acara di suatu stasiun televisi swasta, peserta diberikan pertanyaan secara bertahap dan yang salah keluar dari kepesertaannya dan menjadi penonton. Terinspirasi dari acara tersebut. Akhirnya penulis memodifikasi konsep acara “Rangking 1” itu untuk anak-anak di kelas Matematika yang diampu.
Kuis Ranking Satu melatih pemahaman peserta didik. (Foto ilustrasi oleh Edward Suhadi)
Kuis Ranking Satu melatih pemahaman peserta didik. (Foto ilustrasi oleh Edward Suhadi)

Latar Belakang

Berdasarkan pengalaman penulis sewaktu sekolah, biasanya guru menguji pemahaman siswa melalui tugas, ulangan harian atau ulangan semester. Hal itu yang sering dilakukan di sekolah dimana saya bertugas. Suatu ketika terbesit langkah bagaimana cara mengetahui pemahaman siswa terhadap pokok bahasan dengan langkah yang sedikit berbeda. Dimana langkah itu tetap bisa melihat dan mengukur pemahaman siswa terhadap materi dan juga mampu membedakan antar siswa satu dan lainnya. Tentunya tanpa menyudutkan golongan siswa tertentu (baca: yang belum paham). Apa lagi matematika mungkin menjadi “momok” tersendiri bagi sebagian siswa.
Kuis Ranking 1 ini menjawab tantangan dalam mengukur pemahaman peserta didik sekaligus menciptakan suasana yang menyenangkan bahkan untuk pelajaran matematika yang seringkali ditakuti. Mereka semua diharuskan bisa menjawab semua tahapan soal yang diberikan. Bagi peserta yang salah, mereka akan keluar arena permainan dan pindah duduk di belakang menjadi penonton dan pendukung siswa lainnya yang masih bertahan. Sehingga peserta yang keluar ini tidak merasa tersudut karena gagal menjawab dengan benar.

Alur Pelaksanaan

Untuk melakukan hal tersebut kita bisa melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Pendidik menyiapkan seperangkat soal dengan tingkat kesulitan bertahap mulai yang paling mudah sampai yang tinggi agar bisa mengukur tingkat pemahaman terhadap materi yang kita berikan. Semakin lama seorang peserta bertahan berarti dia mampu untuk menyelesaikan soal sampai dengan tingkat kesulitan tertentu. Anak yang paling bertahan di akhir, maka itulah yang bisa menguasai dan menyelesaikan soal secara benar. Dia berhak menjadi “Rangking 1” dalam permainan ini.
  2. Setiap peserta menyiapkan satu lembar kertas, bisa dari HVS kosong atau kertas tulis serta alat tulis sebagai media untuk menjawab setiap soal yang nanti diberikan.
  3. Setiap peserta hanya memegang kertas jawaban dan alat tulis saja, sehingga meja bersih dari hal yang lain. Hal ini menghindari kecurangan dalam permainan.
  4. Pendidik menjelaskan aturan permainan yang akan dilaksanakan. Misalnya batas waktu menjawab soal kita sepakati bersama. Baik 1 ataupun 2 menit, sebaiknya dibuat berdasarkan kesepakatan.
  5. Setiap soal diberikan, peserta langsung menulis cara mengerjakan sampai menemukan jawabannya di masing-masing kertas mereka.
  6. Jika sudah menuliskan jawaban dan yakin akan jawabannya, peserta mengangkat kertasnya ke atas dengan kedua tangan yang menandakan bahwa mereka sudah selesai menjawab soal.
  7. Jika sudah menjawab semua, atau waktunya habis. Kertas tidak boleh diturunkan sebelum pendidik memeriksa apakah jawabannya benar atau salah.
  8. Jika jawabannya benar, maka peserta berhak mengikuti tahapan soal berikutnya. Jika salah, kertas langsung diambil pendidik pertanda mereka salah dan bergeser peran sebagai pendukung tema-temannya yang lain yang masih bertahan.
  9. Di akhir sesi permainan kuis ini, pendidik bisa memberikan apresiasi kepada peraih Rangking 1, 2 dan 3 sesuai dengan kebutuhan anak didik. Misalnya menggunakan sistem poin apresiasi lebih atas usaha dan kerja kerasnya. Poin tersebut bisa diakumulasikan nanti di akhir semester dan yang paling banyak akan mendapatkan hadiah yang mendidik.

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dibutuhkan sebenarnya sangat kondisional, namun sebaiknya beberapa alat berikut harus tersedia yaitu kertas (media menjawab), alat tulis, spidol, jam/stopwatch.

Manfaat

Melalui permainan ini, peserta diajak untuk merasakan iklim kompetisi sehat di kelas mereka. Selain itu, pendidik bisa mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman anak terhadap materi yang sudah disampaikan. Mungkin cara ini bisa menjadi alternatif solusi untuk menjawab tantangan bagaimana mengetahui pemahaman peserta didik secara cepat dan akurat. Semoga Bermanfaat

Sumber : Indonesia Mengajar

Read more

Friday, May 23, 2014

Mengenal Sudut dengan Memperagakannya

0 komentar



Abstraksi

Berawal dari uniknya karakter murid-murid saya yang sangat aktif-kinestetik pada saat guru mengajar di kelas, saya mencoba untuk mengenalkan mereka tentang konsep sudut dengan cara siswa memperagakan bentuk sudut tersebut menggunakan tubuh mereka. Pembelajaran kreatif ini dicobakan untuk materi ‘Sudut’ Matematika Kelas 3. Aktivitas belajar ini bertujuan untuk mengenalkan siswa mengenai jenis-jenis sudut.

Latar Belakang

Kondisi Kelas

Kelas 3 SDN Inpres Solan, jumlah siswa: 41 siswa. Dengan jumlah yang melebihi kapasitas pembelajaran efektif, saya seringkali kewalahan pada saat penyampaian materi.

Karakter Siswa

Siswa kami adalah anak-anak yang aktif secara kinestetis. Duduk tenang merupakan hal sulit bagi mereka. Walaupun demikian tetap ada siswa yang serius dan tekun mendengarkan guru. Di sisi lain ada siswa yang sibuk mengobrol, berjalan-jalan di kelas, atau sibuk dengan permainannya sendiri.

Pemilihan Metode

Oleh karena itu, saya mencoba untuk mencari cara untuk mendapatkan perhatian anak-anak ini. Pada kesempatan kali ini saya mencoba melibatkan siswa dengan cara menjadikan tubuh mereka sebagai alat peraga. Cara ini saya anggap cocok untuk tipe siswa saya yang aktif secara kinestetik.

Materi Ajar

Sudut

Alat dan Bahan

1. Kertas bekas
2. Spidol
3. Busur derajat
Metode ini saya pakai di kelas 3 dengan jumlah murid sekitar 40an, terbukti cukup efektif untuk membangkitkan antusiasme mereka untuk belajar :D . Melalui metode ini siswa dapat belajar mengenal berbagai macam sudut.

Langkah-langkah Pembelajaran

Apersepsi

Pada awal kegiatan belajar, saya biasanya mencoba membangkitkan minat belajar para siswa terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajak siswa bernyanyi atau memberikan cerita singkat sebagai apersepsi.
Kemudian, guru dapat menjelaskan terlebih dahulu secara sederhana, misalnya dengan menggunakan gambar di papan tulis mengenai macam-macam sudut. Setelah selesai memberikan penjelasan secara singkat, padat dan jelas, guru mengajak siswa untuk melakukan sebuah permainan bersama.

Langkah Pertama

Guru memberikan kesempatan pada siswa yang dapat duduk dengan tenang untuk maju ke depan. Metode pemilihan siswa bisa disesuaikan dengan kondisi kelas, misalnya dengan mengajukan tanya jawab soal. Dalam permainan ini, guru membutuhkan enam orang siswa untuk memperagakan bentuk sudut.
Catatan: Ada tiga sudut yang akan diperkenalkan kepada siswa yaitu: sudut tumpul, sudut siku-siku, dan sudut lancip.
Mengenal Sudut dengan Memperagakannya
Mengenal Sudut dengan Memperagakannya

Langkah Kedua

Guru mempersilakan dua orang siswa terpilih untuk membentuk sudut siku-siku. Guru memberikan panduan kepada siswa untuk berbaring di lantai, kaki bertemu dengan kaki, mengikuti garis lantai sebagai acuan garis lurus. (lihat gambar)

Langkah Ketiga

Guru memperkenalkan sudut siku-siku kepada siswa beserta keterangan yang berkaitan dengan sudut tersebut (nama sudut, besar sudut, kaki sudut, dan titik sudut).
Guru: “Mari kita berkenalan dengan teman kita yang pertama, namanya sudut siku-siku. Sudut apa namanya?”
Siswa: “Sudut siku-siku.”
Guru: “Sudut siku-siku membentuk sudut yang besarnya 90o. Besar sudutnya berapa?”
Siswa: “Sembilan puluh derajat.”
Guru bisa melakukan pengulangan saat memperkenalkan nama-nama sudut dan besarnya. Sesekali, kita bisa tanyakan kepada salah satu siswa untuk mendapatkan perhatian dari siswa tersebut.

Langkah Keempat

Sebagai panduan untuk siswa, guru memberikan keterangan mengenai nama sudut, besar sudut, kaki sudut, dan titik sudut yang sudah guru persiapkan sebelumnya. Keterangannya cukup sederhana saja dengan menggunakan kertas bekas yang sudah ditulisi informasi. Letakkan kertas-kertas keterangan tersebut di tempatnya.

Langkah Kelima

Lakukan hal yang serupa untuk peragaan sudut lancip serta sudut tumpul. Siswa yang turut membantu dalam peragaan diberitahu agar tetap pada posisinya.

Langkah Keenam

Setelah ketiga sudut terbentuk, guru meminta para siswa yang duduk untuk menunjuk sudut mana yang paling besar dan paling kecil. Guru juga meminta siswa untuk membandingkan antara dua sudut, sudut mana yang lebih besar dan lebih kecil. Tahap ini juga merupakan kesempatan bagi kita untuk mengingatkan anak didik tentang penggunaan tanda matematika ‘lebih dari’ dan ‘kurang dari’.
Tips untuk Mengingat:
> (lebih besar karena apabila ditarik garis vertikal di depannya akan menyerupai bentuk huruf ‘b’, ‘b’ berartil ebih besar)
< (lebih kecil karena apabila ditarik garis vertikal di depannya akan menyerupai bentuk huruf ‘k’, ‘k’ berarti lebih kecil)
Setelah selesai satu sesi, guru memberi kesempatan siswa secara bergiliran untuk mencoba.
Adit, ketua kelas 3 berkenalan dengan busur derajat.
Adit, ketua kelas 3 berkenalan dengan busur derajat.

Langkah Ketujuh

Kegiatan ini juga dapat dibuat sebagai permainan. Kumpulkan kertas-kertas keterangan, berilah kesempatan beberapa siswa untuk meletakkan kertas keterangan tersebut di sudut yang tepat. Ingatkan siswa untuk berhati-hati sehingga tidak menginjak kaki/bagian tubuh lain dari temannya yang sedang berbaring di lantai.

Langkah Delapan

Pada akhir peragaan, guru pun dapat memperkenalkan busur derajat (apa itu busur derajat dan fungsinya) kepada anak-anak.



Revisions: (Show)
Read more

Thursday, May 22, 2014

Mengenal Sudut dengan Memperagakannya

0 komentar

Kelas 3 » Matematika 3 »
Alat dan Bahan » Sumber Daya Lokal »

Metode :: Percobaan & Simulasi , Permainan

Abstraksi

Berawal dari uniknya karakter murid-murid saya yang sangat aktif-kinestetik pada saat guru mengajar di kelas, saya mencoba untuk mengenalkan mereka tentang konsep sudut dengan cara siswa memperagakan bentuk sudut tersebut menggunakan tubuh mereka. Pembelajaran kreatif ini dicobakan untuk materi ‘Sudut’ Matematika Kelas 3. Aktivitas belajar ini bertujuan untuk mengenalkan siswa mengenai jenis-jenis sudut.

Latar Belakang

Kondisi Kelas

Kelas 3 SDN Inpres Solan, jumlah siswa: 41 siswa. Dengan jumlah yang melebihi kapasitas pembelajaran efektif, saya seringkali kewalahan pada saat penyampaian materi.

Karakter Siswa

Siswa kami adalah anak-anak yang aktif secara kinestetis. Duduk tenang merupakan hal sulit bagi mereka. Walaupun demikian tetap ada siswa yang serius dan tekun mendengarkan guru. Di sisi lain ada siswa yang sibuk mengobrol, berjalan-jalan di kelas, atau sibuk dengan permainannya sendiri.

Pemilihan Metode

Oleh karena itu, saya mencoba untuk mencari cara untuk mendapatkan perhatian anak-anak ini. Pada kesempatan kali ini saya mencoba melibatkan siswa dengan cara menjadikan tubuh mereka sebagai alat peraga. Cara ini saya anggap cocok untuk tipe siswa saya yang aktif secara kinestetik.

Materi Ajar

Sudut

Alat dan Bahan

1. Kertas bekas
2. Spidol
3. Busur derajat
Metode ini saya pakai di kelas 3 dengan jumlah murid sekitar 40an, terbukti cukup efektif untuk membangkitkan antusiasme mereka untuk belajar :D . Melalui metode ini siswa dapat belajar mengenal berbagai macam sudut.

Langkah-langkah Pembelajaran

Apersepsi

Pada awal kegiatan belajar, saya biasanya mencoba membangkitkan minat belajar para siswa terlebih dahulu. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajak siswa bernyanyi atau memberikan cerita singkat sebagai apersepsi.
Kemudian, guru dapat menjelaskan terlebih dahulu secara sederhana, misalnya dengan menggunakan gambar di papan tulis mengenai macam-macam sudut. Setelah selesai memberikan penjelasan secara singkat, padat dan jelas, guru mengajak siswa untuk melakukan sebuah permainan bersama.

Langkah Pertama

Guru memberikan kesempatan pada siswa yang dapat duduk dengan tenang untuk maju ke depan. Metode pemilihan siswa bisa disesuaikan dengan kondisi kelas, misalnya dengan mengajukan tanya jawab soal. Dalam permainan ini, guru membutuhkan enam orang siswa untuk memperagakan bentuk sudut.
Catatan: Ada tiga sudut yang akan diperkenalkan kepada siswa yaitu: sudut tumpul, sudut siku-siku, dan sudut lancip.
Mengenal Sudut dengan Memperagakannya
Mengenal Sudut dengan Memperagakannya

Langkah Kedua

Guru mempersilakan dua orang siswa terpilih untuk membentuk sudut siku-siku. Guru memberikan panduan kepada siswa untuk berbaring di lantai, kaki bertemu dengan kaki, mengikuti garis lantai sebagai acuan garis lurus. (lihat gambar)

Langkah Ketiga

Guru memperkenalkan sudut siku-siku kepada siswa beserta keterangan yang berkaitan dengan sudut tersebut (nama sudut, besar sudut, kaki sudut, dan titik sudut).
Guru: “Mari kita berkenalan dengan teman kita yang pertama, namanya sudut siku-siku. Sudut apa namanya?”
Siswa: “Sudut siku-siku.”
Guru: “Sudut siku-siku membentuk sudut yang besarnya 90o. Besar sudutnya berapa?”
Siswa: “Sembilan puluh derajat.”
Guru bisa melakukan pengulangan saat memperkenalkan nama-nama sudut dan besarnya. Sesekali, kita bisa tanyakan kepada salah satu siswa untuk mendapatkan perhatian dari siswa tersebut.

Langkah Keempat

Sebagai panduan untuk siswa, guru memberikan keterangan mengenai nama sudut, besar sudut, kaki sudut, dan titik sudut yang sudah guru persiapkan sebelumnya. Keterangannya cukup sederhana saja dengan menggunakan kertas bekas yang sudah ditulisi informasi. Letakkan kertas-kertas keterangan tersebut di tempatnya.

Langkah Kelima

Lakukan hal yang serupa untuk peragaan sudut lancip serta sudut tumpul. Siswa yang turut membantu dalam peragaan diberitahu agar tetap pada posisinya.

Langkah Keenam

Setelah ketiga sudut terbentuk, guru meminta para siswa yang duduk untuk menunjuk sudut mana yang paling besar dan paling kecil. Guru juga meminta siswa untuk membandingkan antara dua sudut, sudut mana yang lebih besar dan lebih kecil. Tahap ini juga merupakan kesempatan bagi kita untuk mengingatkan anak didik tentang penggunaan tanda matematika ‘lebih dari’ dan ‘kurang dari’.
Tips untuk Mengingat:
> (lebih besar karena apabila ditarik garis vertikal di depannya akan menyerupai bentuk huruf ‘b’, ‘b’ berartil ebih besar)
< (lebih kecil karena apabila ditarik garis vertikal di depannya akan menyerupai bentuk huruf ‘k’, ‘k’ berarti lebih kecil)
Setelah selesai satu sesi, guru memberi kesempatan siswa secara bergiliran untuk mencoba.
Adit, ketua kelas 3 berkenalan dengan busur derajat.
Adit, ketua kelas 3 berkenalan dengan busur derajat.

Langkah Ketujuh

Kegiatan ini juga dapat dibuat sebagai permainan. Kumpulkan kertas-kertas keterangan, berilah kesempatan beberapa siswa untuk meletakkan kertas keterangan tersebut di sudut yang tepat. Ingatkan siswa untuk berhati-hati sehingga tidak menginjak kaki/bagian tubuh lain dari temannya yang sedang berbaring di lantai.

Langkah Delapan

Pada akhir peragaan, guru pun dapat memperkenalkan busur derajat (apa itu busur derajat dan fungsinya) kepada anak-anak.



Revisions: (Show)

Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
 
Read more

“Petik” Sendiri Soalmu! – Serunya Ujian Matematika

0 komentar

Pendidikan Karakter »
Kelas 5 » Matematika 5 »
Alat dan Bahan » Sumber Daya Lokal »

Metode :: Permainan

Abstraksi

Siapa bilang ujian harus duduk diam, menulis, dan berkeringat dingin di atas kursi karena kesulitan mengerjakan soal? Ujianpun bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan, bahkan berlarian di dalam kelas.

Latar Belakang

Murid-murid di SDN 25 Bantan Air Kabupaten Bengkalis hampir selalu bisa mengerjakan latihan soal yang saya berikan sehari-hari, hasilnyapun bagus. Tetapi setiap  saya mengumumkan akan mengadakan ulangan atau ujian, seolah siswa-siswa tersebut mengalami mental block (karena panik dan grogi) yang menyebabkan mereka tidak mampu mengerjakan soal.
Dipilih...dipilih..., soalnya dipilih...!
Dipilih…dipilih…, soalnya dipilih…!

Kondisi Kelas

Kegiatan dilakukan di kelas berukuran 5 x 6 m dengan jumlah peserta didik 12 orang, terdiri atas 5 siswa dan 7 siswi.

Latar Belakang Penyampaian Materi

Soal penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian pecahan memiliki cara penyelesaian berbeda-beda. Kadang siswa merasa bingung, sehingga tertukar cara penyelesaian suatu operasi hitung pecahan dengan operasi hitung lainnya. Siswa juga terkadang merasa kurang percaya diri, apakah jawabannya sudah benar atau belum.

 Teori/Penjelasan Materi

Operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan biasa yang memiliki penyebut yang sama, dapat langsung dilakukan dengan menjumlahkan pembilangnya. Sedangkan operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan biasa yang memiliki penyebut berbeda, proses penghitungannya harus diawali dengan menyamakan penyebut terlebih dahulu dengan cara mencari KPK-nya.
Perkalian pecahan bisa langsung diselesaikan dengan cara mengalikan antar-pembilang dan antar-penyebut. Sedangkan pembagian pecahan merupakan perkalian pecahan dengan invers-nya.

Langkah-langkah

  1. Guru menyiapkan kartu soal dengan warna yang berbeda untuk tiap jenis kartu, misalnya warna merah untuk perkalian pecahan, kuning untuk penjumlahan, hijau untuk pengurangan, dan sebagainya.
  2. Guru menempelkan kartu-kartu soal di dinding yang berbeda untuk tiap kategorinya dalam posisi dibalik. Jika kegiatan akan dilaksanakan di luar kelas, kartu bisa ditempelkan di pohon yang berbeda.
  3. Guru menempelkan kartu jawaban pada sisi dinding yang lain.
  4. Guru meminta siswa memilih soal di tiap dinding, minimal 2 soal untuk setiap kategori.
  5. Siswa diberikan waktu untuk mengerjakan tiap soal.
  6. Siswa yang sudah selesai mengerjakan soal diperbolehkan memilih jawaban dari kartu jawaban.
  7. Guru mengoreksi apakah jawaban yang mereka dapatkan sudah benar.
  8. Siswa diperbolehkan mengambil soal bonus jika masih ada sisa waktu.

Lesson Learned

Selain melatih murid-murid menyelesaikan soal-soal matematika dengan cara yang lebih seru, guru dapat menanamkan hal-hal berikut:
"Petik" Sendiri Soalmu!
“Petik” Sendiri Soalmu!
  1. Belajar antre
    Seringkali karena terlalu bersemangat memilih soal, siswa-siswa berebut dan meyebabkan kondisi menjadi kacau. Guru bisa mengingatkan siswa untuk belajar antre.
  2. Menyelesaikan konflik, belajar mengalah
    Ada kemungkinan siswa menginginkan kartu soal yang sama, ini adalah kesempatan bagi siswa untuk belajar menyelesaikan konflik dengan cara bernegosiasi dengan temannya.
  3. Bertanggung jawab terhadap pilihan
    Siswa terkadang mendapat soal yang tidak sesuai harapannya. Hal ini adalah kesempatan  siswa untuk belajar bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah mereka ambil.

Revisions: (Show)

Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
Read more

Ulangan Matematika Keren dengan Pixel Math

0 komentar

Ulangan Matematika Keren dengan Pixel Math


Metode :: TTS , Permainan , Gambar


1

Abstraksi

Sebenarnya hanya ingin membuat ulangan matematika terasa menyenangkan dan terlihat keren. Alternatif lembar jawaban menggunakan metode Pixel Math, di mana siswa dapat membuat gambar tertentu dengan hasil jawaban soal, akan membantu mengurangi beban siswa saat ulangan matematika. Selain itu, guru jadi lebih mudah mengoreksi hasil ulangan dan perpaduan kerja menggunakan gambar dan hitungan akan membantu menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan.

Tujuan dan Sasaran

Tujuan:
  1. Mengenalkan alternatif model lembar jawaban
  2. Membuat ulangan matematika yang keren
  3. Murid tidak merasa terbebani dengan ulangan
  4. Memudahkan guru dalam mengoreksi hasil ulangan
Sasaran:
Murid kelas 4-5, Bab Perhitungan campuran
Alokasi waktu 2 jam

Metode

Alat dan Bahan

  • Pulpen
  • Buku kotak
  • Spidol atau alat pewarna lain

Alur Kerja

Persiapan
  • Guru membuat kotak-kotak kecil (grid) dengan ukuran bebas (min 10×10)
  • Tulislah angka ke dalam setiap kotak, dapat berurutan atau acak
  • Guru membuat sket gambar di dalam kotak-kotak kecil (konsep piksel)
  • Setelah gambar jadi, tulis semua angka yang membentuk gambar
  • Buat bermacam variasi soal dengan angka-angka tersebut
Pelaksanaan:
  • Siapkan  dan bagikan lembar kerja kepada murid
  • Berikan soal kepada murid-murid sesuai sket gambar yang diinginkan
  • Berikan spidol atau pewarna kepada masing masing murid
  • Cara menjawab soal adalah dengan memberi warna kotak sesuai hasil jawaban
2

Pelajaran yang Dapat Diambil

  1. Menjadikan ulangan terasa menyenangkan
  2. Memudahkan proses koreksi hasil ulangan, bila gambar yang dihasilkan murid sama berarti nilainya sempurna.
  3. Menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan

Selamat mencoba!


Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
Read more

Wednesday, May 21, 2014

Manusia Penentu Bilangan

0 komentar


Ringkasan

Siswa kelas IV di SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu masih memiliki kesulitan membedakan  urutan bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, ratus ribuan hingga jutaan. PermainanManusia Penentu Bilangan” dapat memudahkan para siswa dalam memahami urutan bilangan. Kegiatan “Manusia Penentu Bilangan” ini dilaksanakan dengan melibatkan siswa agar berperan menjadi bilangan-bilangan tersebut dan berdiri berurutan. Permainan ini terbukti telah membantu siswa menjadi lebih cepat paham dan tidak salah dalam menyebutkan bilangan ribuan karena memperhatikan urutan teman-teman yang sedang berperan di depan kelas yang dipisahkan oleh titik-titik tertentu yaitu titik ribu dan juta.

Latar Belakang

SDN 17 Nanga Bungan terletak di pedalaman Kalimantan Barat, di desa paling ujung di Hulu Sungai Kapuas. Karakter para siswa di sekolah yang dikelilingi hutan pedalaman Kalimantan dan arus sungai Kapuas ini adalah sangat kinestetis dan senang bermain.
Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang tidak terlalu disenangi oleh para siswa dikarenakan kemampuan berhitung  yang belum cukup baik. Hal ini tentu saja menghambat pencapaian standar pencapaian kompetensi operasi hitung bilangan. Bahkan para siswa masih kerap salah membedakan urutan bilangan sehingga keliru dalam memberikan nama bilangan, khususnya ratusan dengan satuan serta ribuan, seperti sepuluh ratus sembilan belas ribu atau tujuh belas juta sembilan ratus dua belas.
Pengajar Muda melihat kesalahan  siswa dalam memberikan nama bilangan dikarenakan masih belum cukup memahami urutan bilangan dan pemberian titik di setiap kelipatan ribuan. Permainan “Manusia Penentu Bilangan” bertujuan untuk membantu para siswa menyebutkan bilangan ribuan dan juga menuliskan kalimat dari bilangan tersebut sesuai dengan urutannya (satuan, puluhan, ratusan, ribuan, ratus ribuan dan jutaan. Permainan ini telah diterapkan dalam satu kali pertemuan selama tiga jam pelajaran dan terbukti membantu pemahaman para siswa dalam memberikan nama bilangan ribuan, baik secara verbal atau tulisan. Ide dari permainan ini datang dari ibu saya, yakni Ibu Muliani  seorang Guru SDN 1 PB di Tunong, Langsa, Aceh, yang  kebetulan menjadi wali kelas IV sama seperti saya di tempat penugasan.

Metode Kegiatan

Tujuan

Permainan ini bertujuan untuk membantu anak-anak menyebutkan bilangan ribuan dan juga menuliskan kalimat dari bilangan tersebut sesuai dengan urutannya (satuan, puluhan, ratusan, ribuan, ratus ribuan dan jutaan).

Sasaran

Siswa kelas IV yang memiliki anggota lebih dari sepuluh anak.

Waktu Pelaksanaan

Pada jam pelajaran Matematika dengan Standar Kompetensi: Operasi Hitung Bilangan dan Kompetensi Dasar: Siswa dapat menyebutkan bilangan ribuan dan menuliskannya.

Lokasi Pelaksanaan

Ruang kelas atau halaman sekolah.

Alat dan Bahan

  • Buku paket pelajaran matematika kelas IV
  • Sepuluh kertas kotak bertuliskan angka 0-9
  • Kapur tulis atau spidol
  • Papan tulis
  • Kotak pensil, penghapus, atau barang apa pun yang dapat digunakan sebagai “titik”.

Alur Pelaksanaan

  1. Guru menjelaskan tentang operasi hitung bilangan ribuan dan memberikan contoh penyebutan dan angka bilangan ribuan.
  2. Agar mempermudah penjelasan, guru mengajak anak bermain dan meminta empat anak maju ke depan kelas.
  3. Empat anak tersebut berbaris menyamping sesuai urutan perannya, yaitu yang berperan sebagai satuan berdiri paling kiri diikuti oleh yang berperan sebagai puluhan, ratusan dan ribuan.
  4. Setelah empat anak tersebut baris menghadap teman-temannya, guru memberikan kesempatan pada para siswa tersebut memilih secara acak kartu berisi angka 0-9 yang telah disiapkan.
  5. Setelah melihat angka yang didapat, para siswa tersebut memperlihatkan angka tersebut kepada teman-temannya. Kartu tersebut diletakkan di depan dada atau di atas kepala agar teman-temannya dapat jelas melihat.
  6. Guru menjelaskan terlebih dahulu konsep penentuan titik, yaitu setelah urutan ketiga dari paling kiri (satuan). Sehingga dalam hal ini titik harus diletakkan setelah anak yang berperan sebagai ribuan.
  7. Titik yang berada setelah ribuan disebut titik ribu. Sedangkan pada kesempatan lain misalnya bilangan juta (tujuh anak yang maju ke depan), titik setelah jutaan disebut titik juta.
  8. Guru menuliskan angka-angka yang dipegang tiap-tiap anak di papan tulis dan menghitung dari paling kiri untuk menentukan letak titik ribu.
  9. Guru mempersilakan salah satu temannya agar menentukan letak titik ribu dan menandainya dengan kotak pensil atau penghapus, misalnya.
  10. Guru mempersilakan salah satu anak yang duduk menyebutkan bilangan ribuan tersebut.
  11. Guru dapat mengulangi permainan “Manusia Penentu Bilangan” ini dengan operasi bilangan dan urutan angka lainnya sampai para siswa lebih paham.

Contoh Pelaksanaan Permainan

Untuk bilangan ribuan:
  1. Empat anak secara berurutan memiliki angka 8,7,4,1.
  2. Mereka berbaris dari kanan ke kiri yaitu 8741 (belum ditentukan titik ribu).
  3. Kemudian salah satu teman menghitung dari paling kiri sebanyak tiga urutan bilangan ke kanan untuk menentukan titik ribu.
  4. Titik ribu diletakkan di antara anak yang memiliki angka 8 dan 7.
  5. Guru menuliskan angka 8.741 di papan tulis dan mempersilahkan salah satu anak menyebutkan kalimat dari bilangan ribuan tersebut.
  6. Guru menekankan dan mengingatkan penyebutan ribu ketika menunjuk titik diantara angka 8 dan 7. Contohnya, delapan ribu (sambil menunjuk titik) tujuh ratus empat puluh satu.
  7. Guru menjelaskan satu persatu kelompok bilangan mulai dari paling ujung kanan (satuan puluhan ratusan). Contohnya, 741 dibaca tujuh ratus empat puluh satu.
  8. Guru mengingatkan kembali penyebutan 8. (dibaca, delapan ribu) lalu menyambungnya dengan kelompok bilangan setelahnya (741) sehingga semuanya dibaca, delapan ribu tujuh ratus empat puluh satu.
Untuk bilangan jutaan:
  1. Tujuh anak secara berurutan memiliki angka 2,5,4,8,7,4,1.
  2. Mereka berbaris dari kanan ke kiri yaitu 2548741 (belum ditentukan titik ribu dan titik juta).
  3. Kemudian salah satu teman menghitung dari paling kiri sebanyak tiga urutan bilangan ke kanan untuk menentukan titik ribu dan titik juta
  4. Titik ribu diletakkan di antara anak yang memiliki angka 8 dan 7 sedangkan titik juta diletakkan di antara angka 2 dan 5.
  5. Guru menuliskan angka 2.548.741 di papan tulis dan mempersilakan salah satu anak menyebutkan kalimat dari bilangan jutaan tersebut.
  6. Guru menekankan dan mengingatkan penyebutan ribu ketika menunjuk titik di antara angka 8 dan 7 dan juta ketika menunjuk titik di antara angka 2 dan 5. Contohnya, dua juta (sambil menunjuk titik juta), dan delapan ribu (sambil menunjuk titik ribu). Sehingga keseluruhannya dibaca: dua juta lima ratus empat puluh delapan ribu tujuh ratus empat puluh satu.
  7. Guru menjelaskan satu persatu kelompok bilangan mulai dari paling ujung kanan (satuan puluhan ratusan). Contohnya, 741 dibaca tujuh ratus empat puluh satu. Selanjutnya kelompok bilangan ribuan, puluh ribuan dan ratus ribuan (sebelum juta).
  8. Guru mengingatkan kembali penyebutan 2. (dibaca: dua juta) dan 8. (dibaca: delapan ribu) lalu menyambungnya dengan kelompok bilangan setelahnya. Sehingga keseluruhannya dibaca: dua juta lima ratus empat puluh delapan ribu tujuh ratus empat puluh satu.

Hal yang Harus Diperhatikan

  • Tukar posisi anak agar permainan lebih bervariasi. Misalnya si satuan tukar posisi dengan ratusan, puluhan dengan puluh ribuan, dll.
  • Ketika menentukan titik ribu atau titik juta, ajak para siswa menghitungnya bersama-sama.
  • Fokuskan pada titik juta dan titik ribu supaya mereka tidak tertukar penyebutan juta dan ribu, karena kesalahan yang cukup sering terjadi adalah pembedaan kelompok bilangan tersebut.
  • Sesekali buat cerita, sekaligus untuk mengenalkan konsep penyebutan nilai rupiah. Bisa juga mengajak para siswa menabung dan mengingatkan mereka agar, misalnya membuka rekening tabungan di bank.

Hikmah Pembelajaran

Permainan ini dapat membentuk karakter siswa agar lebih komunikatif, meningkatkan konsentrasi dan kekompakan. Siswa juga tidak lagi menganggap angka besar dan banyak pada pelajaran matematika sebagai masalah. Kegiatan ini juga dapat menghindarkan siswa dari kesalahan penentuan urutan bilangan dengan mengingat letak peran teman-temannya ketika menjadi satuan, puluhan, ratusan, dst.

sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
Read more

Belajar Berhitung dengan Bermain LETS JUMP

0 komentar

Latar Belakang

Saya sering menghadapi kebingungan dengan siswa yang memiliki perbedaan “kecepatan” dalam memahami pelajaran, khususnya matematika. Ada siswa yang cepat sekali menangkap pelajaran dan selalu cepat dalam mengerjakan soal, sehingga jika selesai mengerjakan tugas mereka kebanyakan mengganggu teman yang lain atau membuat keributan.
Di sisi lain, ada juga siswa yang perlu waktu lebih lama untuk memahami pelajaran. Murid-murid saya yang ini mengidentikkan matematika dengan penyebab pusing kepala :D . Oleh karena itu saya mencoba membuat matematika terasa menyenangkan dengan permainan yang saya sebut ‘Lets Jump’.

Persiapan

Ini adalah persiapan yang saya lakukan untuk membuat permainan Lets Jump.
  1. Mencari lapangan yang tanahnya bisa digarisi dengan kayu/batu.
  2. Membuat kotak sebanyak 10 di atas permukaan tanah dengan menggunakan kayu sebagai penggarisnya.
  3. Mengisi kotak tersebut dengan nomor secara berurutan dari 1 – 10. Saya mencoba melibatkan siswa dengan membiarkan siswa yang membuat kotak, agar mereka senang.  Catatan: usahakan agar angka yang ditulis ditanah tidak mudah terhapus.
  4. Membariskan siswa di depan kolom nomor 1
  5. Agar lebih semangat, saya memulai permainan dengan mengajak siswa bernyanyi atau pemanasan dulu bersama-sama kemudian menjelaskan aturan main.
  6. Jika siswa sudah mulai siap bermain, maka permainan segera dimulai.
Para siswa sedang asyik bermain Lets Jump
Para siswa sedang asyik bermain Lets Jump

Mulai Bermain

Guru memberikan instruksi pada siswa untuk menghitung kisaran angka 1 sampai 10 sesuai jumlah kolom, misalnya:
Guru                        : “Maju tiga langkah!”
Siswa terdepan       : (melompat sebanyak tiga langkah dengan melewati kolom bernomor 1, 2 dan berhenti di 3)
Guru                        : Panggil nama, misal “Gita, ayo sekarang kamu ada di kotak berapa?”
Siswa Gita               : (menjawab sampai benar) “Nomor 3, Bu.”
Guru                        : “Kalau begitu, Gita ayo lompat lagi sebanyak lima kotak!”
Siswa Gita               : (melompat 5 kali)
Guru                        : “Nah, sekarang Gita ada dikotak nomor berapa?”
Siswa Gita               : “Nomor 8!”
Guru                        : “Jadi anak-anak (bertanya pada semua siswa), tadi Gita ada di nomor 3, maju lima kotak Gita ada di nomor                                      8, berarti 3+5 sama dengan berapa?”
Semua siswa           : “Delapan!”
Begitu seterusnya sampai semua siswa mendapat bagian, sehingga siswa yang cepat belajar bisa mendukung temannya yang lama dalam memahami pelajaran.

Tips

  • Siswa yang belum mendapat giliran harus memberikan semangat dengan bersorak bersama
  • Siswa yang sudah mendapat giliran akan mendapat Reward jika ia tetap setia memberi semangat pada temannya yang lain
  • Jika jumlah siswa banyak, guru bisa membuat dua kelompok besar. Satu kelompok sebagai pemain (bermain lompat duluan), satu kelompok harus menjadi penyemangat. Kelompok yang paling kompak mendapat reward.
  • Angka yang digunakan bisa disesuaikan dengan pemahaman siswa, boleh sampai 20, boleh pengurangan, atau bahkan perkalian dan pembagian (tentu dengan strategi penomoran yang tepat).
Inilah permainan kami untuk belajar berhitung. Selamat mencoba :D !
Revisions: (Show)

Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
Read more

Belajar KPK dengan Bermain Lompat Kodok

0 komentar

Dalam Kompetensi Dasar pelajaran matematika kelas V semester I terdapat materi menggunakan faktor prima dalam menentukan Faktor Persekutuan Besar dan Kelipatan Persekutuan Kecil. Sebelum menentukan KPK dengan menggunakan bilangan prima, siswa dipahamkan  terlebih dahulu dengan konsep dasar yang cukup sederhana bahwa KPK adalah pertemuan pertama dua bilangan atau lebih yang dilipat-lipatkan.

Penjelasan Materi Kelompok Persekutuan Kecil adalah kelipatan terkecil dari dua bilangan atau lebih, atau dengan bahasa yang lebih sederhananya pertemuan pertama dua bilangan atau lebih yang dilipat-lipatkan.
Misalnya berapa KPK 6 dan 4?
Kelipatan 4 =      4              8             12           16           20           24
Kelipatan 6 =      6              12           18           24           30           36
KPK 4 dan 6 adalah 12

Materi Pembelajaran

Kelompok Persekutuan Kecil

Alat dan Bahan

  1. Kertas warna merah dan kuning
  2. Spidol
  3. Selotip
  4. Gunting
  5. Batu

Metode

Games lompat kodok

Langkah Pembelajaran

  1. Guru membuat angka dari 1-20 pada  potongan kertas warna merah dan kuning.
  2. Kertas angka-angka tersebut ditempelkan pada lantai yang bertegel secara berurutan sehingga membentuk petakan angka. Kertas merah di sebelah kanan dan ketas kuning disebelah kiri.
  3. Guru membagi siswa menjadi 2 kelompok, kelompok merah dan kelompok kuning.
  4. Kelompok merah akan melewati petak-petak angka pada kertas merah, dan kelompok kuning akan melewati petak-petak angka pada kertas kuning.
  5. Siswa menjadi kodok-kodok yang harus melompati angka-angka tersebut. Setiap kodok mempunyai kemampuan melompat yang berbeda-beda. Ditunjukan dengan angka yang tertulis pada kertas yang di tempel di dada siswa.
  6. Perwakilan siswa kelompok merah dan kuning mulai melompat pada jalur masing-masing.
  7. Siswa yang melompat meninggalkan jejak pada petak yang diinjaknya  dengan batu.
  8. Pertemuan pertama jejak (batu)  kodok merah dan kuning adalah KPK
April lompat 3 petak sekali, Din lompat 4 petak sekali. Di petak keberapakah jejak kaki mereka bertemu untuk pertama kali?

April dan Din mulai melompat dan meninggalkan jejak pada setiap petak yang diinjaknya
Ternyata jejak kaki April dan Din bertemu untuk pertama kali pada bilangan 12

Lesson Learned

Metode ini selain untuk memahamkan siswa tentang KPK, juga melatih motorik kasar siswa. Selain itu, siswa dilatih untuk disiplin mengikuti aturan permainan, dan bersabar menunggu giliran.
Revisions: (Show)


Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
 
Read more

Belajar Kreatif Matematika – Bermain Bilangan Bulat

0 komentar

Latar Belakang

Menurut beberapa sumber yang saya baca, pembelajaran kreatif setidaknya memuat 3 elemen: guru yang kreatif, tidak tergantung dengan ruang fisik kelas, dan media yang dipakai unik dan tetap berguna.
Berikut ini adalah salah satu usaha untuk menerapkan pembelajaran kreatif untuk pelajaran matematika. Catatan ini saya buat saat saya mengajar kelas rangkap untuk rombongan belajar kelas IV, V, dan VI di SDN Tarak, Distrik Karas, Kab. Fakfak, Papua Barat.
Bermain Bilangan Bulat di Halaman Sekolah
Bermain Bilangan Bulat di Halaman Sekolah

Standar Kompetensi

Pembelajaran ini bisa diintegrasikan sebagai tahapan untuk mencapai standar kompetensi
Kelas IV: Menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat
Kelas V: Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah
Kelas VI: Melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah

Langkah Pelaksanaan

Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Guru Mengajak anak untuk keluar kelas. Bebaskan pikiran anak, guru membuat pelajaran matematika menjadi menyenangkan.
  2. Guru membuat rambu-rambu sesuai aturan garis bilangan di mana 0 menjadi titik tengahnya.
    Sebelah kanan 0 (nol) adalah positif, sebelah kiri 0 (nol) adalah negatif.
    Yang perlu diingat, guru membuat garis bilangan menggunakan media yang murah seperti: tali rafia, akar pohon, atau bahkan garis yang kita buat di atas tanah.
  3. Tandai deretan bilangan sampai dengan angka tertentu baik untuk bilangan bulat positif maupun negatifnya.
    Sekali lagi, sebaiknya guru  menggunakan media yang murah dan mudah didapat: kertas bekas, bungkus snack, atau kita tulis di atas tanah menggunakan kayu.
  4. Tanamkan kepada anak-anak untuk mematuhi rambu-rambu (ke kanan positif, ke kiri negatif).

Bermainlah!

Contoh soal
7 + (-4)
  • Berdirilah di angka 0 sebagai titik mulai.
  • 7 adalah bilangan positif. Sesuai rambu-rambu, jika positif akan melangkah ke kanan 7 kali. Setelah melangkah, kita akan berdiri di atas angka 7.
  • Dari angka 7, kita lanjutkan perintah soal.
  • (-4) adalah bilangan negatif. Sesuai rambu-ramu, jika negatif akan melangkah ke kiri 4 kali. Maka kita akan berdiri di atas angka 3.
Jadi, 7 + (-4) = 3
Berikut video sederhana tentang kegiatan menarik ini.
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=2QIAAJSNiHk
Selamat belajar, bermain, dan berpetualang!
www.ariflukman.com
Revisions: (Show)

Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
Read more

Bunga Pecahan – Memanfaatkan Pajangan untuk Alat Evaluasi Belajar

1 komentar

Abstraksi

Benda yang dipajang dalam ruang kelas tidak hanya berfungsi hiasan. Benda pajangan tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai metode evaluasi belajar.

Latar Belakang

Kondisi Kelas

Siswa kelas V SDN Oi Marai, Kab. Bima sudah mempelajari materi mengenai penjumlahan pecahan, pengurangan pecahan, perkalian pecahan dan pembagian pecahan. Namun belum semua siswa menguasai dengan sempurna, oleh karena itu perlu latihan-latihan mengerjakan soal mengenai materi-materi tersebut.

Latar belakang penggunaan metode

Metode ini merupakan metode yang memanfaatkan benda pajangan dalam kelas sebagai alat evaluasi pembelajaran yang dinamakan “bunga pecahan”.

Latar belakang penyampaian materi

Materi  disampaikan sesuai dengan SKKD pelajaran matematika kelas V semester II mengenai pecahan. Pajangan “bunga pecahan” adalah bentuk evaluasi pembelajaran mengenai pecahan menggunakan media pajangan di dinding kelas.
Hiasan dinding "Bunga Pecahan"
Hiasan dinding “Bunga Pecahan”

Penjelasan Materi

  1. Penjumlahan pecahan :
    Operasi Hitung Pecahan - penjumlahan
  2. Pengurangan pecahan:
    Operasi Hitung Pecahan - pengurangan
  3. Perkalian pecahan :
    Operasi Hitung Pecahan - perkalian
  4. Pembagian pecahan :
    Operasi Hitung Pecahan - pembagian

Materi Pembelajaran

Penjumlahan pecahan, pengurangan pecahan, perkalian pecahan, dan pembagian pecahan.
Daun dan mahkota bunga bisa dimanfaatkan sebagai tempat catatan.
Daun dan mahkota bunga bisa dimanfaatkan sebagai tempat catatan.

Alat dan Bahan

  1. Kertas HVS
  2. Karton
  3. Gunting
  4. Crayon
  5. Pulpen

Metode

Bunga Pecahan

Langkah Pembelajaran

  1. Guru membagi satu lembar kertas HVS menjadi 8 bagian, kemudian mengguntingnya
  2. Kertas HVS yang sudah digunting kemudian dilipat sama besar dan dibuat pola helai bunga pada bagian kertas atasnya, pola dibuat dengan memperhatikan bagian lipatan kertas agar tidak tergunting mengikuti pola nantinya
  3. Kertas bagian bawahnya ditulisi soal pecahan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Satu helas bunga satu soal materi.
  4. Guru membagikan kertas pola  yang berisi soal penjumlahan dan meminta anak menulis nama dan mewarnai bagian atasnya serta menggunting kertas pola tersebut. Kemudian diminta mengerjakan soal penjumlahan pecahan kertas bagian bawahnya. Guru mengoreksi dan memberikan nilai pada kertas bagian bawah.
  5. Guru membagikan kertas pola  yang berisi soal pengurangan dan meminta siswa menulis nama serta mewarnai bagian atasnya serta menggunting kertas pola tersebut. Kemudian siswa diminta mengerjakan soal pengurangan pecahan kertas bagian bawahnya. Guru mengoreksi dan memberikan nilai pada kertas bagian bawah.
  6. Guru membagikan kertas pola  yang berisi soal perkalian dan meminta anak menulis nama dan mewarnai bagian atasnya dan menggunting kertas pola tersebut. Kemudian diminta mengerjakan soal perkalian pecahan kertas bagian bawahnya. Guru mengoreksi dan memberikan nilai pada kertas bagian bawah.
  7. Guru membagikan kertas pola  yang berisi soal pembagian dan meminta anak menulis nama dan mewarnai bagian atasnya dan menggunting kertas pola tersebut. Kemudian diminta mengerjakan soal pembagian pecahan kertas bagian bawahnya. Guru mengoreksi dan memberikan nilai pada kertas bagian bawah.
  8. Helaian-helaian bunga ditempelkan pada karton sesuai dengan jenis operasi hitungnya. Dan diatur semenarik mungkin agar terlihat proporsional.
  9. Setelah membentuk  4 bunga (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian), siswa diminta menggambar daun dan dahan yang menghubungkan bunga-bunga. Pada setiap daun, siswa diminta membuat rumus operasi hitung pecahan.
  10. Setelah selesi, “bunga pecahan” tersebut dipajang di dalam ruang kelas.

Lesson Learned

Pendidikan karakter yang disisipkan

Ketelitian, kerjasama, kesabaran. Selain itu metode ini juga merupakan latihan untuk kecerdasan motorik halus.
Revisions: (Show)

Sumber : http://belajar.indonesiamengajar.org
Read more

Labels

Bahasa Indonesia (2) BOS (6) BSM (1) DAPODIK 2013 (15) Info CPNS (7) Info Umum (41) Kurikulum 2013 (26) matematika (14) NISN (5) Padamu Negeri (18) Penilaian Kinerja Guru (2) PPDB (3) sertifikasi (3)
 
  • STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

    PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PROSES UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Badan Standar Nasional Pendidikan Tahun 2007

  • ALPEKA BOS

    ALPEKA BOS (Aplikasi Laporan Pertanggungjawaban Keuangan BOS Tingkat Sekolah)

  • JUKNIS PENDATAAN DAPODIKDAS 2013

    Tujuan pendataan tingkat sekolah adalah untuk memperoleh data secara langsung yang cepat, akurat,valid, lengkap, dapat dipertanggungjawabkan dan termutakhir.

  • Gelar Gr bagi Guru wajib Tahun depan

    Gelar Gr diperoleh melalui module Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dijalankan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

  • lapor Tunjangan DIKDAS

    cara login di lembar info PTK Masukan NUPTK sebagai UserID Masukan tanggal lahir sebagai password dengan format penulisan YYYYMMDD

  • Dapodik Jadi Acuan untuk Sejumlah Program Kemdikbud

    Tahun ini Data Pokok Pendidikan (Dapodik) menjadi acuan bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam penyaluran dana untuk berbagai kebijakan, mulai dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), rehab sekolah, Bantuan Siswa Miskin (BSM), dan tunjangan profesi guru.